Komitmen NTB Tingkatkan Kesehatan Masyarakat di 2026

07 May 2026 • 00:06 iMedia

InfoSumbawa – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) terus berupaya meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat dengan berbagai program strategis. Dinas Kesehatan Provinsi NTB menetapkan prioritas yang mencakup penurunan stunting, peningkatan skrining penyakit lewat Cek Kesehatan Gratis (CKG), serta penanganan Tuberkulosis (TBC) pada tahun 2026.

Hasil evaluasi Triwulan I-2026 menunjukkan kabar baik: angka prevalensi stunting di NTB turun signifikan menjadi 12,88 persen, jauh lebih baik dibandingkan target nasional yang sebesar 17,5 persen.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB, Dr. dr. H. Lalu Hamzi Fikri, MM.MARS, menjelaskan bahwa keberhasilan ini dihasilkan dari intervensi yang dilakukan secara konsisten melalui dua pendekatan, yaitu intervensi spesifik dan sensitif. “Intervensi langsung di sektor kesehatan memberikan kontribusi sebesar 30 persen, termasuk imunisasi dan pemberian ASI eksklusif. Namun, intervensi tidak langsung yang mencakup akses air bersih dan sanitasi layak berkontribusi sebesar 70 persen,” ungkapnya saat ditemui di ruang kerjanya pada Selasa, 5 Mei 2026.

Program Desa Berdaya menjadi kunci dalam pelaksanaan ini, dengan fokus pada pemantauan di 10 desa per kabupaten/kota, distribusi telur bagi balita, dan dukungan terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Tantangan Nutrisi dan Lingkungan

Walaupun ada penurunan angka stunting, tantangan besar tetap ada, terutama dalam hal asupan gizi serta pengaruh lingkungan. Kadinkes menekankan perlunya pendampingan untuk memastikan balita dengan masalah gizi memperoleh nutrisi yang tepat. “Edukasi tentang pola makan sehat kepada masyarakat menjadi sangat penting agar tidak terlalu bergantung pada makanan cepat saji,” tambahnya.

Cek Kesehatan Gratis (CKG)

Program Cek Kesehatan Gratis (CKG), yang merupakan bagian dari Program Hasil Tercepat Presiden yang dimulai sejak Maret 2025, tengah diperluas di seluruh NTB. Pada tahun 2026, targetnya adalah 2,663 juta jiwa atau 46 persen dari total penduduk NTB dapat menerima layanan skrining kesehatan ini.

Sasaran CKG mencakup semua lapisan usia, mulai dari bayi hingga lansia, yang dapat mengakses layanan ini di Puskesmas, Pustu, Posyandu, serta dalam acara-acara besar di NTB. Dr. Lalu Hamzi menyatakan, “CKG bertujuan untuk mendeteksi faktor risiko penyakit lebih awal. Ini adalah hak setiap individu untuk mendapatkan layanan kesehatan gratis di fasilitas kesehatan.”

Upaya Penanganan TBC

Di samping stunting dan CKG, penanganan Tuberkulosis (TBC) juga menjadi fokus. Pada tahun 2025, penemuan kasus baru mencapai 61 persen dari target yang ditetapkan sebesar 90 persen. Meskipun layanan pengobatan berjalan baik, masih ada tantangan dalam pengawasan konsumsi obat yang seringkali terputus.

Dinas Kesehatan merilis strategi “Terapi Pencegahan” bagi anggota keluarga penderita TBC. “Banyak anggota keluarga yang merasa sehat enggan mengikuti terapi pencegahan, padahal itu sangat penting. Kami mendorong partisipasi masyarakat melalui 40 Desa Berdaya Siaga TBC, di mana harapannya desa-desa ini bisa mencapai status bebas TBC,” tegasnya.

Ketiga pilar dalam penanganan TBC di NTB meliputi penemuan kasus, pengobatan, dan terapi pencegahan. Dengan kolaborasi antara program nasional dan inovasi lokal, Dinas Kesehatan Provinsi NTB optimis untuk menciptakan masyarakat yang sehat dan mandiri, bebas dari ancaman penyakit kronis serta masalah gizi.

iMedia
iMedia adalah penulis di bawah jaringan Inspira Media, sebuah ekosistem media digital yang berfokus pada penyajian berita, opini, dan informasi aktual secara cepat, akurat, dan relevan.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya